43 ~ Love at First Sight
Juni 18, 2008
Cerita sebelumnya: Miha dan Damian bertengkar. Miha yang merasa menyesal telah bertunangan dengan Damian, memutuskan hubungan pertunangan mereka.

Miha mengambil nafas dalam-dalam. Ia duduk sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Miha diam tertegun. Ia baru menyadari perbuatannya. Ia terlalu cepat marah kepada Damian. Mengapa ia membela Vay mati-matian seperti itu? Atas dasar apa ia menjadi begitu marah melihat Vay dihina seperti itu? Apakah karena ia merasa semakin jauh dari Damian? Adakah ia merasa menyesal telah terlanjur jadian dengan Damian. Damian yang selalu berusaha tampil charming dan berwibawa pada akhirnya hanya membuat Miha ill-feel. Anehnya, Miha kini merasa lega setelah melakukan semua ini.
Sore hari, selesai kerja, Vay keluar dari tempat kerjanya. Di pintu gedung Vay melihat seseorang sedang menunggunya. Vay tampak heran dan langsung menghampiri orang itu,
“Miha, mengapa kau ada di sini?” Miha memegang tangan Vay,
“Aku ingin bicara denganmu.” Vay menatap Miha agak lama. Ia tampak biasa saja setelah drama yang terjadi tadi pagi,
“Kita bicara sambil jalan ya.” Miha mengangguk. Di jalan, Miha berkata,
“Maafkan aku.” Miha terdiam sejenak lalu melanjutkan perkataannya,
“Marahkah kau padaku?”
“Enggak. Bukan kau yang menghina aku. Kau tak salah apa-apa. Kau tak perlu minta maaf padaku Miha.” Vay memandang Miha dengan lembut.
“Terima kasih…” Miha menundukkan kepalanya. Vay berkata,
“Terima kasih juga sudah membelaku.” Miha kemudian berkata lagi,
“Vay, maafkan Damian.” Miha menundukkan kepalanya. Vay tak segera menjawab. Ia kemudian berkata,
“Biarlah dia sendiri yang menyelesaikan masalahnya denganku. Kau tak ada urusannya dengan soal ini. Kau tak perlu berkata begitu.”
Miha menatap Vay dengan penuh kekhawatiran,
“Marahkah kau dengan dia?” Vay menghela nafasnya.
“Miha, aku juga manusia yang punya perasaan. Namun, kalaupun aku marah, kemarahan itu tak akan ada gunanya karena tak akan mengubah apa-apa. Situasinya akan tetap seperti sekarang.” Vay menghela nafasnya, Miha terdiam.
Miha lalu meraih tangan Vay dan menggenggamnya erat. Vay tertegun ketika merasakan jari-jari Miha, cincin itu sudah tak ada lagi… Vay mengangkat tangan Miha sambil bertanya kepadanya,
“Ada apa Miha? Kamu baik-baik saja?”
Miha menggelengkan kepalanya.
“Aku sudah putus sama Damian…” Tiba-tiba Miha menangis dan memeluk Vay dengan erat.
“Aku marah kepadanya, aku nggak rela melihatmu dihina seperti itu…” Vay mengusap rambut Miha. Miha menarik baju Vay dan menggenggamnya erat. Ia lalu membenamkan wajahnya ke dada Vay dan menangis lagi.
“Hei, jangan terlalu sedih.” Vay membelai Miha. Ia memegang wajah Miha, mengusapnya lembut dan mencium air mata di pipi Miha,
“Asin…” Vay menggumam sambil mengecap air mata Miha di bibirnya.
“Apa Vay?” Miha bingung mendengar ucapan Vay yang nggak jelas itu.
“Eh, nggak apa-apa… Hei Miha.”
“Apa?” Vay tiba-tiba nyengir kepada Miha. Wajah yang cupu kalau sedang nyengir itu tampak sangat bahagia,
“Aku mau traktir kamu marshmallow. Mau nggak?”
“Marshmallow?” Miha menatap Vay dengan bingung. Vay memandang Miha sambil senyum-senyum. Miha tiba-tiba seperti teringat sesuatu, ia tertunduk.
“Kau nggak mau? Kalau nggak mau aku nggak maksa kok. Aku sekarang nggak mau maksa kamu lagi…” Vay menatap Miha, ia tak senyum-senyum lagi. Ia membelai rambut Miha dengan lembut dan menciumnya. Miha menggelengkan kepalanya. Sambil memeluk Vay ia berkata setengah berbisik,
“Aku mau kok…”
Vay segera menarik tangan Miha,
“Yuk kita beli marshmallow sekarang.”
~ Tamat ~


